
Pengantar
Saudara-saudari
terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Peristiwa-peristiwa
yang terjadi di negara kita berlangsung dengan cepat, termasuk
peristiwa-peristiwa yang memilukan, yang memakan korban jiwa dan melukai
kehidupan. Yang satu belum teratasi, muncul yang lain yang lebih sulit.
Memang alat komunikasi
massa menyebarkan berita secara cepat, tetapi penerima berita belum tentu
memberi perhatian dan seandainya memberi perhatian juga belum tentu segera
dapat menentukan sikap. Ketika mereka yang sedang tertimpa kesulitan
betul-betul menderita, yang lain belum tersentuh hatinya sehingga perhatian
yang datang belum memadai. Ketika yang lain lagi mendengar dan mulai tersentuh
hatinya, korban sudah tidak tertolong atau yang dapat bertahan sudah menemukan
penolongnya. Terdapat banyak perbedaan besar antara mereka yang mengalami
secara langsung dan mereka yang hanya mendengar, apa lagi yang berada di
kejauhan.
Sebuah surat gembala
diharapkan dapat menyapa semua, meskipun latar belakangnya berbeda-beda. Tetapi
kepada yang berbeda-beda itu sebetulnya ada sebuah inti yang hendak
disampaikan: Masyarakat kita sedang dalam kesulitan yang besar dan mendalam.
Kita berada dalam keadaan yang mendesak. Diperlukan segera sikap dan tindakan
bersama yang benar; bila tidak, kerusakan menjadi begitu parah sehingga
kemungkinan besar tidak dapat diperbaiki lagi.
Dengan latar belakang inti persoalan
seperti ini, kami sampaikan surat gembala ke hadapan umat. Bagi mereka yang
merasakan bahwa surat ini terlalu panjang, silakan mengambil seperlunya; bagi
mereka yang merasakannya sebagai kurang panjang, silakan mencari tambahannya
dari ajaran-ajaran Gereja yang sudah ada; bagi mereka yang berpendapat bahwa
ini kurang tajam, silakan mencari kata-kata yang lebih tepat dan lebih cocok
untuk pewartaan di lingkungannya.
Yang penting adalah bahwa dalam
menghadapi situasi sulit sekarang ini kita tetap percaya kepada Tuhan dan
secara bersama-sama tidak terlambat mencari jalan keluar yang sesuai dengan
kehendak-Nya demi keselamatan bangsa kita.
Selamat Paskah 2001
MENATA
MORALITAS BANGSA
Surat
Gembala Para Waligereja Indonesia
PENDAHULUAN
Saudara-saudari terkasih umat Katolik se Indonesia,
1. Luka-luka dari peristiwa
berkepanjangan di Maluku dengan kasus pulau Kesui dan Teor di Kecamatan Seram
Timur belum lagi sembuh, sementara itu daerah rawan konflik seperti Papua,
Aceh, Poso dan lainnya tetap mensinyalkan berita-berita duka. Gema gelegar bom
malam Natal belum lagi lenyap dari pendengaran, menyusullah berita
kematian yang menyedihkan dari Sampit dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ibu
Pertiwi terus mencucurkan air mata kesedihan. Anak-anak bangsa mati dengan cara
yang menyedihkan karena pertikaian antara elite politik di negeri sendiri.
Pertikaian itu menggunakan simbol-simbol agama dan mempertentangkan
perbedaan-perbedaan dalam kehidupan sosial, ekonomi atau perjuangan politik.
Unjuk kekuatan secara massal muncul dalam berbagai bentuknya, tak jarang
disertai dengan kekerasan yang membawa banyak kerusakan maupun korban jiwa.
Tak berdaya?
2. Kita merasakan sepertinya
pihak penyelenggara pemerintahan, legislatif, penegak hukum dan penjaga
keamanan yang mendapat tugas untuk mengatasi krisis multi dimensi ini tampak
tidak mampu mengatasi permasalahan tersebut. Bahkan banyak langkah yang sudah
atau akan diambil, ternyata melawan hukum dan peraturan yang berlaku. Atau
peraturan dan hukum yang diambil sebagai dasar pengambilan langkah itu
merupakan bahan yang masih perlu didiskusikan. Kalau hukum dan peraturan yang
paling dasar pun tidak diperhatikan lagi, bagaimana mungkin masalah pokok
seperti korupsi, kolusi, nepotisme, pelanggaran hak asasi manusia, masalah
perbankan, pulihnya roda ekonomi dan masalah lainnya yang sudah lama menumpuk
akan diselesaikan secara memuaskan? Bahkan muncul pertanyaan: betulkah mereka
tidak berdaya menghadapi kasus-kasus tersebut, atau krisis ini disebabkan oleh
karena mereka yang seharusnya menyelesaikan masalah tak mampu melepaskan diri
dari keterkaitannya dengan masalah tersebut, atau juga anggota Pemerintahan
yang baru ikut serta bergabung menjadi bagian dari masalah itu? Betulkah tidak
mampu, atau sebenarnya ada yang dapat disebut sebagai ketidaktaatan
terselubung? Yang sangat menyedihkan adalah bahwa kita melihat tokoh-tokoh
politik kita akhir-akhir ini sibuk berkelahi satu sama lain. Mereka sibuk
menggalang kekuatan dan mencari keuntungan sendiri. Mereka melupakan agenda
pokok yaitu memperbaiki kehidupan ekonomi dan menjalankan reformasi di segala
bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semoga mereka tidak melupakan dambaan
pokok rakyat banyak, yaitu terciptanya kerukunan dan damai, tersedianya
lapangan kerja, meningkatnya kehidupan ekonomi, serta kesejahteraan bersama
yang nyata.
Matikah moral dan etika?
Saudara-saudari yang terkasih,
3. Pada tahun 1997, dalam surat
Gembala Prapaskah kami mengatakan bahwa ada kemerosotan moral hampir di segala
bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melihat dan
menyaksikan apa yang terjadi sejak Pemilu 1999 sampai sekarang ini, kami
terdorong untuk bertanya secara serius: betulkah sekarang ini hanya ada
kemerosotan moral saja atau sudah matikah moral dan etika yang seharusnya
menjadi dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Kami menduga
bahwa hal yang terakhir inilah yang menjadi akar seluruh kekacauan hidup
sekarang ini, baik yang mencuat dalam bentuk berbagai konflik dan kekerasan
antar kelompok masyarakat maupun macetnya kehidupan ekonomi dan politik,
rusaknya peradilan dan tidak terjaminnya keamanan. Akar kekacauan hidup yang
memprihatinkan secara mendalam dan menyeluruh ini terdapat di mana-mana: mulai
dari dalam masyarakat sendiri, para pelaku keuangan dan ekonomi sampai dengan
para penyelenggara negara dan keamanan, bahkan di antara wakil rakyat dan para
penegak hukum.
4. Pertanyaan serius sekitar
hidup-matinya kehidupan moral dan etika di tengah kancah kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini, kami sampaikan dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut ini:
a). Sudah matikah rasa keadilan, rasa solidaritas terhadap sesama warga,
dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama? Sekarang ini yang menonjol adalah
semangat hidup egoistis demi kepentingan sendiri, keuntungan pribadi atau
kelompok. Dengan demikian ikut mati juga semangat persaudaraan nasional, rasa
senasib sepenanggungan, rasa kesatuan dan persatuan sebagai warga satu bangsa
dan negara. Kebencian ditabur di mana-mana. Yang berbeda tidak mendapat
kesempatan untuk saling melengkapi, tetapi sebaliknya malah diadu, sehingga
misalnya, orang-orang muda dibeli agar mendukung penumpukan kekuasaan demi
kepentingan kelompok sendiri.
b). Sudah matikah rasa tanggung-jawab politik, rasa keadilan demi
kesejahteraan umum? Mengapa politik lebih kuat berorientasi demi kekuasaan
saja, demi kesempatan empuk di bidang keuangan dan demi kepentingan sempit diri
sendiri atau kelompoknya? Padahal dasar moralitas kehidupan politik adalah:
demi kesejahteraan umum.
c). Masih adakah rasa hormat akan hidup dan martabat manusia? Tampaknya
rasa hormat akan hidup dan martabat manusia menjadi musnah jika ditemukan ada
perbedaan. Rasa perikemanusiaan mati, rasa hormat dan penghargaan akan keunikan
dan kemajemukan hilang. Perbedaan pendapat, suku, agama, daerah, cita-cita,
kepentingan atau aspirasi hidup dapat dengan mudah menjadi pemicu percekcokan,
perkelahian, tindak kekerasan, permusuhan dan pembunuhan antar anak bangsa
sendiri.
d). Masih adakah rasa hormat kepada Tuhan dalam menghayati hidup
kemasyarakatan? Tampaknya pelaksanaan hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara tidak dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan, tidak dihayati dengan
semangat iman dan ajaran iman, tidak dituntun oleh hati nurani yang bersih,
jujur dan adil. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya penyelewengan yang
terjadi. Orang masih rajin berdoa dan beribadat di tempat-tempat ibadat, tetapi
tak tampak pengaruhnya terhadap cara hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Di dalam bidang hidup kemasyarakatan ini, rasanya sudah mati cahaya
terang hati nurani. Tuhan tidak dihormati lagi.
Belum pernah seburuk sekarang?
5. Belum
pernah rasanya kita sebagai umat beriman maupun sebagai warga negara, mengalami
kekacauan hidup seperti sekarang ini. Tetapi justru karena itulah kita
terdorong lebih kuat lagi untuk turut serta berpartisipasi dalam usaha keras
membangkitkan kembali proses pemulihan dan reformasi bangsa dan negara kita
ini. Kami para Gembala Umat dalam keprihatinan yang sama ingin mengajak umat
Katolik sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat, bangsa dan negara untuk
memandang peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam terang iman, selanjutnya
belajar dari sana mencari jalan – bersama semua komponen bangsa – untuk
membarui Indonesia, menegakkannya kembali dari kejatuhan yang terdalam dan dari
keterpurukan yang multi dimensi ini. Dalam melihat situasi yang suram ini,
penglihatan kita dapat menjadi suram juga. Dengan pelita iman disertai
kejernihan budi dan hati, mari kita coba juga melihat titik-titik terang,
hikmah yang dapat ditarik serta mutiara-mutiara sikap hidup yang indah yang
masih dapat kita temukan di tengah masyarakat dan bangsa kita, untuk kita
kembangkan bersama.
I. SEBAGAI UMAT BERIMAN
Saudara-saudari yang terkasih,
6.
Anda sekalian
yang berada di daerah rawan seperti di Maluku, Aceh, Kalimantan Barat, Poso,
Papua, Kalimantan Tengah dan di tempat-tempat lainnya, Anda semua yang langsung
mengalami peristiwa menyedihkan penuh rasa permusuhan, Anda yang harus
menyelamatkan diri mengungsi ke tempat yang lebih aman, terluka secara fisik
maupun rohani, sangat wajar kalau Anda bertanya-tanya di dalam hati: “Mengapa
hanya karena kami berbeda agama, atau berbeda suku maka kami dimusuhi,
dikejar-kejar, dibunuh dan rumah pun dibakar habis?” Anda yang mengalami
sendiri peristiwa peledakan bom di malam Natal, Anda yang kehilangan
orang-orang yang Anda cintai karena menjadi korban atau menjadi cacat atau
luka-luka, sangatlah wajar kalau Anda bertanya-tanya: “Mengapa orang memusuhi
kami umat kristiani sehingga pada saat kami melaksanakan Ibadat Natal, bom
diledakkan?” Tidak sedikit pula peristiwa pada tahun-tahun yang telah lampau,
maupun yang rasanya masih dapat terjadi lagi sekarang ini, membuat banyak dari
kita sebagai umat kristiani maupun sebagai warga negara merasa dalam keadaan
terancam dan was-was.
Teguhlah dalam iman
Saudara-saudari yang terkasih,
7. Kalau Anda
sebagai umat Katolik merasa terancam oleh situasi dan kondisi yang Anda alami,
kami mengajak Anda sekalian untuk bersama kami memperkokoh iman dan membarui
kesediaan untuk mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus. Sudah sejak awal,
untuk mempersiapkan diri merayakan kebangkitan Tuhan dengan gembira, umat
kristiani justru merenungkan jalan salib. Kita mengikuti Yesus dalam perjalanan
sengsara dan penderitaan, yang berakhir dalam kematian di Golgotha. Yesus tidak
menjanjikan hidup gampang di dunia ini. Ia bersabda: “Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Mt 16:24). Mengikuti Yesus di jalan salib berarti mengambil bagian dalam
penderitaan-Nya, sebagai konsekuensi dari tugas perutusan memaklumkan Kerajaan
Allah, yang adalah soal “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh
Kudus” (Rm 14:17). Di taman Getsemani Yesus merasa cemas; demikian juga kita
sering merasa cemas. Maria mengikuti Yesus anaknya, dan merasakan penyiksaan
serta pembunuhan anaknya itu; kita pun akan merasakan pelbagai penderitaan,
seperti Maria. Akan tetapi penderitaan, kecemasan dan kebingungan itu bukan
titik akhir. Dulu, di padang gurun, umat Allah Perjanjian Lama mengalami hal
yang sama. Pada waktu itu Allah mengelilingi, mengawasi dan menjaga mereka “seperti
biji mata” (Ul 32:10). Kita pun boleh yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu
menjaga kita. Sejak kita dijadikan, sedetik pun kita tidak luput dari perhatian
kasih sayang Allah. Tidak pernah kita ditinggalkan sendirian. Tidak pernah kita
dilupakan.
Salib dan kebangkitan
8. Kita
percaya bahwa jalan salib adalah jalan keselamatan. Keyakinan inilah yang
dimaklumkan oleh Santo Petrus di Serambi Salomo, “Ia, Pemimpin kepada hidup,
telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati”
(Kis 3:15). Atas dasar itu pula Santo Paulus dengan gembira menulis kepada umat
di Roma, “Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan
hidup juga dengan Dia, karena ... maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm
6:8-9). Oleh karena itu kita tidak putus asa, meskipun tidak dapat diingkari
bahwa hati kita berdebar-debar juga. Oleh karena itu, di lubuk hati orang
beriman, tersimpan kegembiraan dan harapan yang tidak akan pernah mati. Harapan
itu memberi kekuatan kepada kita, karena Dia yang telah memulai karya yang
baik, akan menyelesaikannya juga (bdk Flp. 1:6). Oleh karena itu, dalam keadaan
yang kadangkala amat mencemaskan ini, marilah kita teguh dan mantap dalam iman.
Marilah kita tetap gembira dalam mengikuti Yesus, ke mana pun juga Ia membawa
kita. Marilah kita merasa aman dalam lindungan-Nya.
Kebaikan, bukan
kebencian
9. Apabila
hati kita teguh dalam iman, kita juga dapat menolak godaan untuk menjadi
tertutup, curiga dan memberontak terhadap kenyataan hidup kita. Dalam keteguhan
iman dan kejernihan hati nurani, kita akan mengerti mengapa Yesus mengajak kita
untuk berbaik hati, bahkan terhadap musuh sekali pun. Itulah yang Ia katakan
kepada kita: ”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci
kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang
mencaci kamu .. maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah
Yang Mahatinggi ... Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu adalah murah
hati” (Luk 6:27.28.35.36). Begitu pula Santo Paulus berseru, “Berkatilah siapa
yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk” (Rm 12:14). Kekuatan kita
yang sebenarnya ialah bilamana kita menghadapi permusuhan, kita tidak menutup
diri dan tidak balik memusuhi. Sebaliknya kita membiarkan hati kita disinari
oleh kebaikan dan kasih sayang Yesus. Maka amatlah penting bahwa pelbagai
teror, rasa benci dan ketidakadilan jangan sampai menggelapkan hati. Jangan
sampai kita membiarkan diri diseret oleh emosi-emosi negatif yang justru
memperlemah iman dan menghilangkan kegembiraan kita.
Kejernihan hati
dan budi
Saudara-saudari yang terkasih,
10. Kalau
kita teguh dalam iman dan merasa aman dalam naungan Tuhan, kita akan sampai
pada pengalaman orang-orang yang dicintai dan mencintai Tuhan, yaitu kejernihan
hati dan budi. Cinta dan kebaikan hati Tuhan meluap ke dalam hati kita,
menghangatkan kita secara mendalam, membebaskan kita dari sikap selalu curiga,
mudah berprasangka dan melihat hanya yang negatif saja. Cinta Tuhan membuat
kita mampu memandang keadaan masyarakat kita dengan lebih jernih, lebih wajar
dan lebih benar. Apa yang akan kita lihat? Kita akan melihat bahwa memang ada
orang yang selalu ingin menaburkan permusuhan dan rasa benci. Entah karena
prasangka, entah karena kita sendiri yang menyebabkannya, entah karena mereka
tidak betul-betul mengenal kita dan sekian banyak kemungkinan alasan yang lain.
Yang pasti hendaknya kita tidak membalas benci dengan benci, permusuhan dengan
permusuhan. Sebaliknya, hendaknya kita berdoa bagi kebaikan mereka (Bdk. Mt
5:44).
Masih banyak yang
baik!
11. Lebih
daripada itu, kalau mata hati dan budi kita disinari oleh terang kasih sayang
Yesus, kita akan melihat sesuatu yang sangat menghibur hati kita: dalam
masyarakat dan negara kita ada jauh lebih banyak orang yang siap untuk
menebarkan kebaikan dan damai. Sebagian terbesar masyarakat merindukan
perdamaian. Mereka siap untuk menerima keberadaan berbagai macam umat dan
komunitas dalam masyarakat. Kebanyakan orang yang berada di sekitar kita adalah
orang yang dapat dipercaya, yang di dalam hatinya terdapat kebaikan. Apa yang
sering disebut sebagai toleransi tradisional bangsa Indonesia belum mati.
Bahkan boleh dikatakan bahwa di dalam masyarakat terdapat keinginan agar semua
anggota masyarakat, termasuk mereka yang berasal dari umat, suku dan adat lain,
dapat merasa aman dan bahagia dalam hidup bersama.
12. Pada
dasarnya dalam hati orang tertanam rasa kasih terhadap sesama dan secara
spontan tergerak untuk membantu yang sedang menderita. Kerap kita dengar di
tengah terjadinya kecelakaan, kerusuhan dan kericuhan selalu ada saja orang
yang diberitakan menyelamatkan tetangganya yang berbeda agama atau suku,
menolong dan merawat mereka yang menjadi korban. Dari Maluku, misalnya, telah
diberitakan muncul Gerakan Perempuan Peduli, yaitu gerakan bersama perempuan
yang beragama Islam, Kristen dan Katolik untuk bekerjasama meringankan
penderitaan di sekitarnya dan mengusahakan perdamaian. Semangat kasih
persaudaraan antar sesama warga masyarakat yang berbeda agama, juga amat jelas
terungkap dalam pernyataan sikap yang dengan keras menolak teror Natal. Ada
kesan semua umat beragama merasa terserang oleh tindakan tersebut. Maksud
peledakan bom-bom tersebut amat kentara, yaitu mengadu-domba umat yang berbeda
agama. Tetapi waktu itu umat tidak mau diadu-domba. Umat beragama menolak untuk
dijadikan tumbal kepentingan-kepentingan politik. Teror itu mau memberi kesan,
seakan-akan orang-orang dari umat yang satu ingin menyerang umat lain. Ini
semua dimaksudkan untuk menciptakan permusuhan dan kalau bisa kekacauan baru,
sehingga dengan demikian gerakan demokratisasi dan reformasi digagalkan. Maka
dari itu, hendaknya kita jangan masuk ke dalam perangkap yang dipasang untuk
menjerat. Jangan kita mau dibawa masuk ke dalam sikap emosional terhadap suku
atau umat beragama lain, karena justru itulah yang mereka harapkan. Kematian
seorang muda Muslim ketika melindungi umat di sebuah gereja di Jawa Timur pada
hari Natal yang lalu menjadi bukti, kenangan dan kekuatan yang mendorong untuk
terus-menerus membina kerukunan antarumat beragama. Bukankah kita semua
mempunyai ajaran yang mendorong kita untuk menyebarkan benih-benih kasih dan
menolak segala bentuk kekerasan?
Saudara-saudari terkasih,
13 Kami
para Waligereja Katolik Indonesia melihat hikmah dalam peristiwa teror Natal
yang menelan begitu banyak korban. Peristiwa dan pengalaman itu bagi banyak
orang menjadi titik perubahan sikap: dari sikap berprasangka dan saling curiga,
menjadi sikap mau saling mendekati dan menerima. Oleh karena itu kami mengajak
seluruh umat untuk melawan apa saja yang memecah-belah. Marilah kita berusaha
untuk mendekati umat yang beragama lain dan membangun jalur-jalur komunikasi
yang baik dengan siapa saja. Kami mengajak komunitas-komunitas basis di
tengah-tengah masyarakat untuk menjalin hubungan baik dengan umat beragama lain
dalam lingkungan masing-masing, berdasarkan sikap saling percaya. Usaha yang
sama dapat diterapkan pada kasus perbedaan suku dan lain sebagainya. Melalui
komunikasi yang tulus dan terbuka, rasa curiga yang sering mengganggu hubungan
antarumat beragama, antarsuku atau kelompok dapat dihilangkan. Dengan demikian
peristiwa-peristiwa yang kita alami ini malah justru dapat dijadikan kesempatan
untuk memperkokoh persaudaraan kita.
Kalahkan kejahatan dengan kebaikan
Saudara-saudari
yang terkasih,
14. Untuk itu perlulah kita sendiri berusaha
membebaskan diri dari prasangka terhadap umat beragama, suku atau kelompok
lain. Apabila kita mengharapkan mereka tidak berprasangka terhadap kita, kita
pun jangan berprasangka terhadap mereka. Mari kita bertobat dari kekerasan
hati, dari segala rasa curiga dan prasangka. Dengan demikian kita melaksanakan
anjuran Santo Paulus: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi
kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rm 12:21). Bertobat sebagaimana
dikehendaki Yesus juga berarti: Jangan kita menganggap hanya diri kita,
kelompok kita atau suku kita saja yang menjadi korban. Orang lain juga menjadi
korban, dan kita pun dapat turut berdosa. Tuntutan Yesus kepada orang yang
mendakwa seorang perempuan yang berzinah berlaku juga bagi kita: “Barangsiapa
di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada
perempuan itu!” (Yoh 8:7). Yesus mengajak orang untuk menanggalkan sikap
mengadili dan menghukum orang lain.
Melindungi yang
kecil dan lemah
15. Secara khusus di mana
kebetulan agama Katolik merupakan agama yang dianut suku terbesar, hendaknya
umat Katolik jangan menekan umat beragama atau suku lain, tetapi sebaliknya
justru selalu memberi perlindungan dan membantu mereka, misalnya dalam
mendirikan rumah ibadah dan merayakan hari raya mereka. Umat beragama atau suku
lain selalu harus dapat merasa aman dan terlindung dalam lingkungan umat
Katolik. Bila kita sendiri mengharapkan sikap seperti itu dari umat beragama
atau suku lain, maka kita harus menunjukkan bahwa umat beragama atau suku lain
dapat merasa bebas dan kerasan di tengah-tengah kita.
II. SEBAGAI WARGA
NEGARA
Saudara-saudari
yang terkasih,
16. Banyak orang heran bahwa situasi seakan-akan
begitu cepat berubah menjadi lebih buruk, sejak muncul gerakan
demokratisasi dan reformasi. Tetapi kami para uskup melihat permasalahannya
sebagai berikut: Telah lama dalam Pemerintahan Orde Baru, kita hidup
seolah-olah dalam damai, keteraturan dan penuh solidaritas, tetapi semuanya
semu. Semu, karena pelan-pelan solidaritas telah berganti menjadi kepatuhan
karena takut kepada pihak atau kelompok yang sedang berkuasa; solidaritas semu,
karena alasannya sama-sama saling diuntungkan dalam hal kedudukan yang membawa
keuntungan materi, atau dalam hal kelancaran usaha dan perdagangan; solidaritas
semu, karena tali pemersatu yang mengikat bangsa bukan persaudaraan nasional,
melainkan kekuatan dan kekuasaan atas nama stabilitas dan keamanan nasional.
Segala perbedaan sikap dan kritik terhadap kekuasaan, diselesaikan lewat
pendekatan stabilitas dan keamanan nasional.
Sementara itu kehidupan moral seluruh bangsa merosot akibat sikap mendewakan
materi. Uang jauh lebih berperan daripada aturan dan hukum. Sejak itu pula sebenarnya
sudah hilang kepekaan orang mengatur hidup berdasarkan iman, moral dan ideologi
bangsa. Pancasila menjadi slogan dan ucapan bibir, tetapi tidak menjadi jiwa
kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian moralitas kehidupan bermasyarakat
mati, nilai-nilai luhur Pancasila mati. Demikian juga dengan semangat
solidaritas dan persaudaraan nasional. Maka pada saat kekuasaan yang menjadi
pengikat persatuan yang palsu runtuh, keadaan senyatanya tampak jelas. Bahkan
sampai sekarang kita warisi sikap-sikap seperti yang kuat dan besar menindas
yang lemah dan kecil, semangat materialistis yang diikuti oleh budaya korupsi.
Sayang bahwa kesungguhan reformasi tidak terwujud dalam usaha-usaha yang
menunjukkan perbaikan, sedang solidaritas dicabik-cabik karena dipersempit
menjadi solidaritas antar mereka yang seagama, sesuku, sedaerah, separtai,
sekelompok, sealiran dan sefaham.
17. Kepada
semua umat Katolik sebagai keseluruhan, kami mengingatkan akan tanggung-jawab
berat dan besar bagi terciptanya kesejahteraan bangsa, lewat penghayatan iman
yang utuh, termasuk di bidang kehidupan kemasyarakatan. Cara kita hidup dan
berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat harus berdasarkan iman dan moral.
Untuk itu kami sampaikan pedoman-pedoman sebagai berikut:
a). Penghayatan dan pelaksanaan iman umat
Katolik mencakup kesediaan membina persaudaraan sejati dalam membangun
kehidupan bertetangga yang baik, saling mendukung dan peduli terhadap siapa
pun, dengan kelompok mana pun, termasuk dengan umat beragama yang lain. Ini
adalah ungkapan kesetiaan umat Katolik akan ajaran kasih Yesus.
b). Iman umat belum penuh kalau belum
dipertalikan dengan nilai-nilai budaya, tradisi dan agama-agama yang
mempengaruhi cara hidup setempat. Apa yang baik, benar dan bernilai positif
perlu diambil alih sebagai kekayaan dan didukung. Sebaliknya yang negatif
diusahakan untuk tidak lagi mempengaruhi cara hidup siapa pun juga. Dianjurkan
agar umat bersama masyarakat setempat dapat menciptakan budaya baru, kebiasaan
baru yang lebih baik.
c). Iman Katolik belum utuh, kalau belum
menjadikan umat sangat peduli dan prihatin terhadap masalah kemiskinan baik
pribadi maupun struktural, ketidak-adilan sosial dan kesenjangan-kesenjangan
lainnya yang ada dalam masyarakat. Iman Katolik mendorong lahirnya usaha nyata
lewat keahlian dan profesi untuk bersama-sama dengan semua orang yang
berkehendak baik, memerangi, memberantas dan mengatasi ketidakadilan agar dapat
mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan hidup yang merata.
d). Iman belum utuh, kalau umat Katolik
yang berkarya di bidang eksekutif, legislatif, yudikatif dan penegak hukum,
demikian pula para pelaku ekonomi, belum memperhitungkan agar keputusan yang
mereka ambil berdampak sosial yang positif bagi nasib banyak orang. Iman yang
sama hendaknya mempengaruhi kebijakan-kebijakan perdagangan dan bidang usaha
lainnya, sehingga terjaminlah kesejahteraan kaum buruh, petani dan nelayan yang
kedudukan sosialnya tidak diuntungkan.
e). Iman belum penuh kalau mereka yang
berkecimpung di bidang ilmu belum mengkaji penerapan ilmu tersebut apakah
sungguh membawa kesejahteraan yang merata, atau sebaliknya justru melestarikan
kesenjangan-kesenjangan sosial yang tanpa disadari diciptakan oleh penerapan
ilmu tersebut. Dalam hal ini Ajaran Sosial Gereja sangat penting untuk
dipelajari bersama.
f). Iman umat belum penuh, kalau belum
menjadikan mereka bersemangat solider terhadap orang dan masyarakat sekitarnya
khususnya mereka yang masih belum sejahtera. Kalau dalam hal ini Pemerintah dan
mereka yang berwajib belum dapat berbuat banyak, iman seharusnya mendorong
mereka untuk bersama dengan semua orang yang berkehendak baik mengusahakan
santunan-santunan kesejahteraan kepada sesama warganya, tanpa harus menunggu
anjuran dari siapapun.
g). Iman umat belum penuh, kalau mereka yang
berkecimpung dalam komunikasi sosial lewat media massa memberitakan
peristiwa-peristiwa konflik secara tidak bertanggungjawab. Iman yang sama
hendaknya membuat praktisi komunikasi sosial juga mendorong terjadinya situasi
yang mendukung arah perdamaian antar kelompok yang berkonflik, dan bukan malah
membuat konflik tersebut berkepanjangan. Walau media massa tidak langsung
menciptakan konflik, tetapi media massa punya andil juga dalam penajaman
konflik jika media tidak mengabarkan suatu peristiwa dengan kehendak untuk membawa
perdamaian.
18. Kepada seluruh umat Katolik, kami mengajak
agar Anda sekalian sebagai warga negara Indonesia yang baik, dengan berbagai
cara yang baik dan sah, disertai sikap rendah hati juga mengingatkan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Pemerintah, Kejaksaan Agung,
penjaga keamanan serta para pelaku ekonomi, akan tanggungjawab berat yang
mereka emban agar bangsa Indonesia dapat keluar dari keterpurukannya dalam
konflik, kekacauan, kemiskinan dan keputusasaan. Situasi yang mengkhawatirkan
ini sebagian besar bukan pertama-tama karena kesalahan rakyat melainkan
kesalahan para pemimpin. Mereka sekarang, lain daripada para pemimpin
sebelumnya, dipilih dan diangkat secara demokratis. Maka mereka berkewajiban
berat untuk memikul tugas yang diletakkan di atas bahu mereka dengan
sebaik-baiknya.
Kepada umat Katolik yang duduk dalam
Pemerintahan, dipilih sebagai wakil rakyat, bertugas sebagai penegak hukum dan
pelayan keamanan serta para pelaku ekonomi, kami mengajak agar Anda semua
secara bersama-sama mempergunakan kelebihan Anda untuk memberi perhatian pada
pedoman tersebut di atas sedemikan sehingga peran kepemimpinan Anda dapat
dirasakan oleh masyarakat luas.
Kepemimpinan bermutu
19.
Secara khusus,
kami ingin mengungkapkan hal-hal berikut ini. Dalam menghadapi masalah berat
seperti yang sedang kita tanggung sekarang ini, bangsa Indonesia memerlukan
kepemimpinan yang sungguh bermutu yaitu memiliki kepekaan akan krisis yang kita
alami bersama, mampu membuat rencana pokok dan utama dengan skala prioritasnya
serta mampu dengan tekun melaksanakannya. Kami ingin menekankan agar
konflik-konflik antara Pemerintah dan Legislatif diakhiri secara arif agar
masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa dapat diberi perhatian penuh dan
dapat ditanggulangi bersama secepatnya. Pemerintah dan para pemimpin lembaga
tinggi negara memiliki kewajiban untuk menciptakan kondisi-kondisi agar
masyarakat dapat hidup damai, sejahtera, terjamin dalam identitasnya, sesuai
dengan keluhuran martabat setiap orang sebagai manusia ciptaan Allah, bebas
untuk mewujudkan kehidupan bersama sesuai dengan cita-cita, harapan dan
keyakinan-keyakinan mereka. Rakyat harus dapat percaya kembali kepada hukum.
Masyarakat tidak akan main hakim sendiri apabila mereka dapat mengalami kedaulatan
hukum yang adil, menjamin hak-hak asasi manusia dan tidak berpihak pada mereka
yang berkuasa, kaya, atau kepada pribadi atau kelompok tertentu. Dalam hubungan
ini kami menyesalkan bahwa sampai sekarang sekian banyak kerusuhan, tindak
teror, pelanggaran hak-hak asasi manusia dan intimidasi lainnya belum pernah
diusut secara tuntas. Kami berpendapat bahwa adalah fatal bagi kehidupan
masyarakat apabila penyelenggara negara, penegak hukum dan penjaga keamanan
yang seharusnya membela yang benar malah memberi kesan bahwa mereka melindungi
para penjahat pelaku perbuatan keji itu. Selama ini, masih juga berlangsung
usaha provokasi yang tidak ditindak dengan nyata dan penuh kemauan.
20. Khusus
mengenai kebijakan Pemerintah untuk menerapkan otonomi daerah, para pemimpin
lokal hendaknya tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin
pusat sebelumnya yang berkuasa hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga
dan kelompoknya. Sebaliknya dibutuhkan kesungguhan pemimpin lokal yang baru
untuk tetap ingat bahwa berkuasa adalah melayani, bahwa kekuasaan yang dimiliki
harus dikembalikan pada usaha untuk menyejahterakan warga dan kemajuan
masyarakat. Pelajaran di masa lalu telah menunjukkan bahwa pemimpin yang tidak
mau mendengarkan suara masyarakat, akan terpuruk dalam kegagalan sehingga
rakyat akan mengalami kerugian.
Keteladanan
21. Mari kita
ingatkan bahwa kepemimpinan selalu membawa kewajiban untuk memberikan teladan
kepada masyarakat. Hidup, perbuatan dan wacana seorang pemimpin harus
sedemikian rupa sehingga menjadi contoh bagi mereka yang dipimpin. Hal ini
berlaku bagi semua pemimpin, baik pimpinan negara, pimpinan politik, pimpinan
umat beragama, maupun pimpinan masyarakat setempat. Mengemban tugas
kepemimpinan mengandung tanggungjawab untuk hidup sedemikian rupa sehingga
dapat menjadi teladan bagi mereka yang dipimpin.
22. Marilah kita
berusaha agar bangsa kita dapat dihindarkan dari kemungkinan terperangkap dalam
segala macam cara hidup dan cara kerja warisan semangat masa lalu yang
bermasalah. Negara dalam era reformasi harus memancarkan sosok Pemerintah,
perwakilan rakyat dan penegak hukum yang bebas dari korupsi, kolusi dan
nepotisme. Khususnya Pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan yang sah di
Indonesia, bukan hanya tidak boleh memberikan ruang sedikit pun pada korupsi
dan kolusi, tetapi juga harus jelas kelihatan tidak korup di mata rakyat.
Rakyat akan bersedia percaya pada Pemerintah dan mengikuti arah yang
ditunjukkan apabila Pemerintah ini dengan jelas merupakan Pemerintah yang lain
dari pada yang sebelumnya yang justru jatuh karena korupsi, kolusi dan
nepotisme.
23. Demokrasi
kita hanya akan berkembang apabila DPR betul-betul membuktikan diri sebagai
wadah perwakilan rakyat yang tanpa pamrih, bersih, bertanggungjawab atas
kesejahteraan umum bagi seluruh bangsa, berkompetensi dan bergaris politik yang
jelas. Adanya partai-partai politik yang bermutu merupakan syarat keberhasilan
demokrasi. Selama ini partai-partai belum secukupnya berhasil memberi kesan
kepada rakyat bahwa partai-partai itu adalah pembawa harapan dan kepentingan
mereka, dengan program dan keprihatinan yang jelas, yang memberikan orientasi
kepada rakyat tentang alternatif-alternatif pokok kebijakan nasional.
24. Sikap dan
perilaku para penegak hukum dan pihak yudikatif dapat menjadi petunjuk buah
demokrasi: yang benar dikatakan benar, yang salah diajukan ke pengadilan, semua
terpidana dikenai hukuman adil. Sampai sekarang rakyat sering belum mendapat
pemenuhan rasa keadilan. Didambakan suasana aman dalam keadilan yang merata.
25. Dalam
situasi di mana bangsa dan negara terancam oleh disintegrasi, negara wajib
membuat jelas bagi rakyat, baik dalam mengambil kebijakan maupun dalam tindakan
nyata, bahwa negara Indonesia adalah milik seluruh bangsa dan segenap daerah,
suku, komunitas agama dan budaya, serta segenap kelas sosial. Persatuan dan
kesatuan bangsa hanya dapat mantap apabila semua komponen bangsa kita dapat
mengalami negara ini sebagai rumah mereka sendiri, di mana mereka dapat hidup
utuh menurut cita-cita, keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi mereka, dengan
kewajiban dan hak yang sama.
Pancasila
Saudara-saudari yang terkasih,
26.
Dalam hubungan
ini kami ingatkan kembali mengenai pentingnya Pancasila. Kenyataan bahwa
Pancasila di bawah Pemerintah Orde Baru telah disalahgunakan sebagai ideologi
penunjang Pemerintahan yang tidak mau mencari legitimasi rakyat, tidak boleh
menjadi alasan untuk meremehkan Pancasila. Hanya atas dasar Pancasila
pluralitas etnik, budaya, religius dan sosial masyarakat seluruh Nusantara
bersepakat mau bersatu dalam satu negara. Demi persatuan dan kesatuan bangsa
komitmen bangsa Indonesia pada Pancasila sebagai falsafah dasar negara perlu
senantiasa ditegaskan kembali. Kita memerlukan Pancasila yang dimengerti
sebagai daya untuk melayani dan bukan untuk menguasai. Ketika Pancasila hanya
dimengerti dalam bahasa kekuasaan, maka politik merupakan usaha penumpukan
kekuasaan untuk diri seseorang atau kelompoknya sendiri dan demikian matilah
moral politik yang hakekatnya hanya untuk kesejahteraan bersama. Peristiwa-peristiwa
penuh kekerasan yang menelan banyak korban merupakan akibat dari kekuasaan yang
dijadikan panglima.
Mari kita bangkit bersama, menghidupkan kembali politik
dalam dayanya untuk melayani. Mari kita hayati kembali Pancasila sebagai daya
untuk melayani rakyat banyak menuju kesejahteraan yang merata. Mari kita
bangkit dan Pancasila kita jadikan daya sosial, kekuatan untuk integrasi,
misalnya integrasi antara mereka yang datang sebagai transmigran dan penduduk
asli. Mari kita jadikan Pancasila sebagai kekuatan untuk terbinanya solidaritas
sosial antara yang memiliki lebih dan mereka yang berkekurangan, antara mereka
yang lebih terpelajar dan mereka yang masih terbelakang. Dengan demikian
politik yang dikembangkan adalah untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian
subur kembalilah persaudaraan dan solidaritas nasional secara nyata.
Ajakan
27. Akhirnya,
sebagai warga bangsa Indonesia kami mengajak umat Katolik: Mari kita bangun
bersama kehidupan yang baik, rukun, sejahtera, dalam solidaritas dengan sesama.
Untuk itu, lima harapan berikut ini kiranya dapat membantu:
a). Mari kita membangun kehidupan bersama dalam
solidaritas. Solidaritas berarti bahwa saudara-saudara kita yang miskin dan
menderita kekurangan diberi prioritas agar dapat mencapai tingkat kehidupan
yang wajar. Mari kita bangun kehidupan ekonomi, baik di tingkat nasional,
daerah maupun lokal, yang betul-betul adil, di mana kita semua merasa senasib
sepenanggungan.
b). Mari kita saling menerima dalam pluralitas seperti
apa adanya. Mari kita terima bahwa kita memang banyak dan berbeda satu sama
lain dan dalam keberbedaan itulah kita semua mewujudkan satu bangsa Indonesia.
Berbeda pulaunya, berbeda bahasa ibunya, berbeda budaya dan daerahnya, berbeda
sukunya, berbeda agama dan penghayatan keagamaannya. Marilah kita saling
menghormati dalam keberlainan, agar masing-masing merasa dihormati dalam
kekhasan dan keutuhan identitas kita.
c). Mari kita bersepakat untuk menolak segala tindak
kekerasan dalam mewujudkan harapan, dalam menyampaikan tuntutan dan melontarkan
kritikan kita. Mari kita bersedia menyelesaikan semua masalah yang ada di
antara kita secara benar, adil dan damai, dengan sabar dan saling mendengar
serta saling menyatakan pendapat, tanpa memaksa, tanpa menyerang, tanpa merusak
dan tanpa mengancam.
d). Mari kita tumbuhkan komunikasi yang beradab,
meskipun setiap hari di jalan di kota-kota kita banyak perbuatan kekerasan yang
dapat kita saksikan, banyak tindakan yang tidak pantas, bahkan cenderung tidak
beradab. Sejak dahulu bangsa Indonesia telah membangun bentuk-bentuk komunikasi
beradab. Semua agama mengajar agar kita saling bersikap baik. Maka mari kita
tumbuhkan cara yang beradab dalam menyelesaikan segala masalah yang ada di
antara kita.
e). Mari kita kembangkan toleransi yang positif: yang
banyak melindungi yang sedikit, yang sedikit menghormati perasaan dan kepekaan
yang banyak. Dengan demikian kita dapat hidup bersama dengan baik, meskipun
berbeda agama, suku, ada yang menjadi penduduk asli dan ada yang menjadi
pendatang.
PENUTUP
28. Saudara-saudari, umat Katolik
Indonesia yang terkasih, Bangsa Indonesia memang sedang berada dalam krisis.
Tetapi itu bukanlah alasan yang membuat kita pasif dan menjadi putus asa. Mari
kita percaya pada Allah yang dalam Putera-Nya menyatakan kehendak-Nya untuk
menyelamatkan kita. Mari kita mengangkat hati kita kepada-Nya, dan mari kita
dengan sepenuh hati, di tempat kita masing-masing, berusaha membuat situasi
bangsa menjadi lebih baik. Khususnya kepada saudara dan saudari yang tinggal
dalam daerah yang dilanda konflik kekerasan, entah antarumat beragama, entah
antarsuku atau karena alasan lainnya, kami menyatakan ikut prihatin dan solider
dengan Anda. Kami mohon dan berdoa agar Anda dilindungi oleh Tuhan, dan agar
Tuhan mengabulkan doa Anda. Semoga Anda sendiri tidak melibatkan diri dalam
tindak kekerasan terhadap orang atau golongan lain dengan alasan apapun. Sambil
berdoa untuk Anda, kami pun mengingat saudara-saudari sebangsa dan setanah air
yang hidup, menderita bersama dan senasib dengan Anda. Semoga Tuhan membantu
dan melindungi mereka juga. Akhirnya, semoga Anda dapat menjadi tanda dan saksi
bahwa cinta lebih kuat daripada kebencian dan pengampunan lebih kuat daripada
balas dendam. Semoga usaha-usaha Anda untuk melaksanakan ajakan kami, dapat
menjadi kesaksian iman Anda di dalam masyarakat. Semoga dengan kesaksian Anda,
masyarakat kita mengalami perubahan dalam menyongsong masyarakat yang adil,
damai dan sejahtera.
Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, keadilan berkembang di
negeri kita dan damai sejahtera melimpah untuk selama-lamanya (Bdk. Mzm 72:7).
Selamat Hari Raya Paskah
Jakarta, Prapaskah 2001
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Kardinal
Julius Darmaatmadja, S.J.
K e t u a
Mgr.
Ignatius Suharyo
Sekretaris
Jenderal
DOA
Ya Allah,
dalam kemelut yang menimpa negeri kami
terdengar suara-Mu,
“Jangan takut”.
Berilah kami iman untuk menjadi berani dan tabah
dalam menghadapi semuanya ini.
Ya Allah,
di tengah pertentangan
yang masih berkepanjangan
Kau katakan:
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”.
Berilah kami kekuatan untuk mengasihi tanpa batas.
Ya Allah,
di tengah suara-suara yang melontarkan kebencian
Kau katakan:
“Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.
Ajarilah kami berdoa bagi siapa saja.
Ya Allah, di
tengah berbagai penganiayaan
Kau sabdakan:
“Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu”
Berikanlah berkat-Mu yang lebih ampuh dari pada kutuk itu.
Ya Allah,
kejahatan berkembang di mana-mana
kami dengar:
“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan”.
Limpahkanlah kekuatan-Mu karena tanpa Dikau kami benar-benar tak bermakna.
Ya Allah,
ketika dicekam oleh kekhawatiran,
kami dengar lagi:
“Kalahkan kejahatan dengan kebaikan”
Kami mohon semoga kebaikan-Mu memperbarui bumi Indonesia tanah air kami.
A m i n.