Make your own free website on Tripod.com

MEDIA MONIKA: Media Informasi & Komunikasi Paroki Santa Monika Serpong
Tentang Paroki St. Monika

Home

Tentang Paroki St. Monika
Dewan Paroki
Lingkungan
Warta MONIKA
Informasi Penting Lain
Album Foto
Buku Tamu
Hubungi kami

Riwayat Paroki Santa Monika Serpong

logomonika.gif

sejarah st monika Paroki Santa Monika adalah salah satu paroki dalam wilayah gerejawi Keuskupan Agung Jakarta yang termasuk dalam Dekenat Tangerang.

Saat ini berwilayah kerja pelayanan meliputi daerah dengan batas-batas:

  • SEBELAH UTARA dengan Jalan Tol Jakarta-Merak, berbatasan dengan Paroki St. Maria Tangerang
  • SEBELAH TIMUR dengan Kali Angke, berbatasan dengan Paroki St. Bernadeth-Cileduk, Paroki St. Matius Penginjil- Bintaro dan Paroki Rasul Barnabas-Pamulang
  • SEBELAH SELATAN  dengan Gunung Sindur - Parung Kabupaten Bogor (Keuskupan Bogor)
  • SEBELAH BARAT berbatasan dengan kecamatan Balaraja, Kecamatan Tigaraksa (Paroki St. Agustinus Karawaci).
Paroki Santa Monika juga dikenal sebagai Paroki Serpong, karena gedung induk gereja Santa
Monika berada di Serpong, Kota Mandiri Bumi Serpong Damai.

Paroki ini adalah pemekaran dari Paroki St. Agustinus-Karawaci dengan peningkatan status dari
Stasi Ascensio selaras dengan berkembangnya jumlah umat Katolik yang ada. Oleh karena itu
riwayat Paroki tidak bisa lepas dari riwayat berdirinya Stasi Ascensio sebagai cikal bakal Paroki.

Stasi Ascensio
Semula ada 3 lingkungan di ujung selatan termasuk dalam Paroki St. Maria-Tangerang, terdiri
Lingkungan Margaretta, Lingkungan Yohanes VI dan Lingkungan Yohanes V. Dengan pemekaran
Paroki St Maria, berdirilah Paroki St. Agustinus-Karawaci. Ternyata kemudian Lingkungan
Margaretta diserahkan pelayanannya kepada Paroki St. Agustinus.

Pada kesempatan Misa di Aula TK Strada Nusa Melati, sekarang Sekolah Strada di Villa Melati
Mas, pada tanggal 13 Mei 1990 yang dihadiri Pastor Ign Putranto OSC. dari Paroki St. Agustinus
dan menjelaskan bahwa akan ada pemekaran lagi menjadi Paroki meliputi wilayah Serpong dan
sekitarnya dengan penggembalaan dari Ordo Salib Suci (OSC). Atas kesepakatan umat ketiga
lingkungan itu dan prakarsa tokoh-tokohnya antara lain Agustinus Mariatmo, Robert Dwi Trisna
(alm.), JB. Rahmat Heryanto (alm.), Sularso dan lain-lain serta kesediaan Pastor Ign. Putranto OSC.
untuk menggembalakannya maka dibentuk stasi yang mandiri dengan menginduk pada Paroki St.  Agustinus.

Formateur Pengurus Dewan Stasi terbentuk pada hari Kenaikan Tuhan Yesus tanggal 24 Mei 1990,
sehingga stasi dinamakan Stasi Ascensio. Oleh Pastor Chris Tukiyat OSC., Pastor Kepala Paroki
St. Agustinus, diminta membentuk pengurus lengkap untuk dilaporkan ke Keuskupan Agung
Jakarta. Pada tanggal 19 September 1990 Pengurus Dewan Stasi diangkat resmi oleh Pastor
Kepala Paroki St. Agustinus dan kemudian secara resmi pula Mgr. Leo Sukoto SJ (alm.), Uskup
Agung Jakarta, menyetujui nama Stasi Ascensio dengan surat No.493/3.27.39/91.

Stasi Ascensio makin berkembang terutama dengan umat-umat pendatang di
pemukiman-pemukiman baru. Pertama dengan mekar bertambah Lingkungan Petrus Paulus di
perumahan Bumi Serpong Damai. Terus berkembang dan bertambah sehingga Aula TK Strada yang
digunakan untuk ibadah Misa mingguan menjadi terasa sempit. Terasa perlu ada bangunan untuk
ibadah atau gereja yang lebih luas, di samping Aula TK akan dipakai untuk perluasan sekolah
Strada.

Membangun Paroki dan Gedung Gereja
Stasi yang benar-benar mandiri dalam mengelola kehidupan stasi, keperluan liturgi, melengkapi
barang-barang inventaris berupa bangku, kursi, pengeras suara dan lain-lain tanpa bergantung pada
induk Paroki St. Agustinus. Sebagai Stasi hanya sekali-sekali dilibatkan tugas tata-laksana atau
rapat pleno di Paroki yang akhirnya menginginkan adanya gedung gereja sendiri dan ditingkatkan
menjadi Paroki. Keinginan ini selaras dengan rencana PT Bumi Serpong Damai (BSD) dan
Keuskupan Agung Jakarta dengan penghibahan tanah untuk lahan gereja seluas 3.407 m2 yang
ditandatangani pada tanggal 23 Januari 1990.

Agar aktiviitas dan misa mingguan dapat diselenggarakan di BSD, maka sebelum membangun
gedung gereja perlu membangun aula atau gedung serba-guna lebih dahulu yang relatif cepat dan
pendanaan ringan. Dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Serba-guna atau PPGS yang diketuai
Vincensius da Silva.

Lintasan sejarah Paroki St. Monika - Serpong
 
25 Desember 1989 
 
Kesepakatan pembentukan sebuah Paroki baru di daerah Serpong.
13 Mei 1990 Misa Pertama di Aula TK Strada Bhakti Nusa Melati Serpong dan pertemuan antara Pastor Ignatius Putranto OSC dengan Pengurus Lingkungan untuk merencanakan pembentukan Stasi.  Lingkungan yang ada saat itu, yakni lingkungan Yohanes V (eks Paroki St. Maria Tangerang), lingkungan Yohanes VI (eks Paroki St. Maria Tangerang) dan lingkungan Margaretta (eks Paroki St. Agustinus Karawaci).
24 Mei 1990 Pemilihan Pengurus Dewan Stasi Serpong.
5 Juni 1990 Pembentukan dan Pengakatan Pengurus Harian Dewan Stasi dan seksi-seksinya oleh Pastor Chris Tukiyat OSC dengan surat keputusan No. 024/DS/V/90 tanggal 19 September 1990.
10 Oktober 1990 Terbit Advice Planning (Ijin Prinsip) Pembangunan Gereja No. 593/3512-Bappeda/90/III dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tangerang.
12 Oktober 1990 Pengangkatan Ketua Panitia Pembangunan Gedung Serba Guna (PPGS) oleh Dewan Paroki St. Agustinus dan Pembentukan Pengurus  Inti No. 012/DS/X/90 dengan surat pengangkatan yang ditanda tangani oleh Pastor Chris Tukiyat OSC.
Januari 1991 Dimulai kegiatan pencarian dana pembangunan gedung gereja.
4 April 1991 Diputuskan penggunaan nama "ASCENSIO" sebagai nama Stasi Serpong yang dimulai berdiri bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus pada tanggal 24 Mei 1990 dengan surat Keuskupan Agung Jakarta No. 493/3.27.39/91 yang ditanda tangani oleh Mgr. Leo Soekoto SJ.
18 Mei 1992 Terbit surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tinggkat II Tangerang.
22 Juli 1992 Panitia Peletakan Batu Pertama dibentuk.
1 Oktober 1992 Peletakan Batu Pertama oleh Uskup Agung Jakarta yang diwakili oleh Pastor Martinus Soenarwidjaja SJ (almarhum), sebagai tanda dimulainya pembanguan fisik Gedung Gereja, Gedung Pastoran dan Gedung Paroki/Aula.
25 November 1992 Pembangunan Gedung Pastoran dimulai.
28 Maret 1993 Pembangunan Gedung Pastoran selesai.
20 Mei 1993 Pemberkatan Gedung Pastoran oleh Pastor Chris Tukiyat OSC.
3 November 1995 Perubahan status Stasi Ascensio menjadi Paroki St. Monika Serpong.
26 November 1995 Peresmian Gedung Gereja Paroki St. Monika - Serpong dan diadakan misa yang dipimpin oleh Pastor Martinus Soenarwidjaja SJ (almarhum).

Riwayat Monika Mengenal lebih dekat dengan pelidung Gereja kita Santa Monika

Dalam kalendar orang-orang kudus gereja Katolik, Santa Monika diperingati setiap tanggal 27 Agustus.

Siapakah Santa Monika itu?
Santa Monika, ibu Santo Agustinus dari Hippo, adalah seorang ibu teladan.  Iman dan cara hidupnya yang terpuji patut dicontoh oleh ibu-ibu Kristen, terutama mereka yang anaknya tersesat oleh berbagai ajaran dan bujukan dunia yang menyesatkan. Riwayat hidup Monika terkait  erat dengan hidup anaknya, Santo Agustinus, yang terkenal bandel sejak mudanya.

Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara, dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan beribadat.  Ketika berusia 20 tahun, ia menikah dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya.

Dalam hidupnya bersama Patrisius, Monika mengalami tekanan batin yang hebat karena ulah Patrisius dan anaknya Agustinus.  Patrisius mencemoohkan usah keras istrinya mendidik Agustinus agar menjadi seorang pemuda yang luhur budinya. Namun semua itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa mohon campur tangan Tuhan.  Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apapun  bahwa doanya akan dikabulkan Tuhan.  Baru pada saat-saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan.  Monika sungguh bahagia dan mengalami rahmat Tuhan pada saat-saat kritus hidup suaminya.

Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kota Kartago, dia meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme yang sesat serta hidup dengan seorang wanita dan mempunyai anak tanpa perkawinan yang sah.  Untuk menghindar dari ibunya, dia pergi ke Italia.  Namun ia sama sekali tidak luput dari doa dan air mata ibunya.

Monika tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga kemudian  ia menyusul ke Italia.  Disana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milano.  Di Milano, ia berkenalan dengan Uskup Santo Ambrosius dan berkat bimbingan serta teladannya, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya.  Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya.

Setelah mengalami masa-masa bahagia bersama anaknya, Monika akhirnya meninggal di Ostia, Roma.  Teladan hidup Santa Monika menyatakan kepada kita bahwa doa yang tak kunjung putus, pasti akan didengarkan Tuhan.

disadur dari: Mgr. Nicolaas Martinus Schneider, CICM. " Orang Kudus Sepanjang Tahun", Penerbit Obor, 1993.